Pada tanggal 28 Juli 2023, Desa Pariok akan menjadi saksi dari sebuah acara yang kaya akan tradisi dan makna. Masyarakat Desa Pariok mempersiapkan diri untuk merayakan peringatan 10 Muharram dengan mengadakan acara membuat bubur Asyura, sebuah hidangan yang memiliki nilai simbolis yang mendalam. 10 Muharram adalah hari yang penting bagi umat Islam, karena pada tanggal ini terjadi peristiwa penting dalam sejarah mereka. Peristiwa ini dikenal sebagai Ashura, yang bermakna "kesepuluh" dalam bahasa Arab. Pada tanggal ini, umat Islam memperingati berbagai peristiwa, seperti pembebasan Nabi Musa dari kejaran Firaun dan pengorbanan cucu Nabi Muhammad, Imam Husain, dalam Pertempuran Karbala. Desa Pariok, sebuah komunitas yang kaya akan tradisi dan nilai-nilai keagamaan, menggunakan kesempatan ini untuk menggalang persatuan dan menjalin hubungan yang lebih erat antarwarga. Salah satu cara mereka melakukannya adalah melalui acara pembuatan bubur Asyura. Acara dimulai dengan persiapan bersama oleh seluruh warga desa. Warga berkumpul di tempat yang telah disediakan, membawa bahan-bahan dan peralatan yang diperlukan untuk membuat bubur Asyura. Mereka saling bekerja sama dalam menyiapkan bahan-bahan seperti biji-bijian, kacang-kacangan, buah-buahan kering, dan rempah-rempah. Setelah semua bahan siap, proses pembuatan bubur dimulai. Masyarakat Desa Pariok bekerja bersama-sama dalam memasak bubur tersebut. Mereka mencampurkan bahan-bahan dengan hati-hati dan penuh kasih sayang, mencerminkan semangat kebersamaan dan kepedulian sosial yang kuat di antara mereka. Selama persiapan, para warga juga mengingat kembali peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada 10 Muharram. Mereka berbagi cerita dan menggambarkan makna simbolis dari setiap elemen yang digunakan dalam bubur Asyura. Hal ini memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk mempelajari lebih lanjut tentang sejarah dan nilai-nilai yang ditanamkan dalam tradisi ini. Ketika bubur Asyura matang, acara mencapai puncaknya. Seluruh warga desa berkumpul di satu tempat untuk menyantap hidangan ini bersama-sama. Momen ini menjadi momen kedekatan, harmoni, dan persatuan yang sangat dirasakan oleh semua peserta. Semua orang menikmati rasa dan aroma bubur yang lezat, namun lebih dari itu, mereka merayakan kebersamaan dan kesatuan sebagai komunitas. Acara membuat bubur Asyura pada 10 Muharram di Desa Pariok tidak hanya sekadar tradisi kuliner, tetapi juga sebagai lambang persatuan dan penghargaan terhadap nilai-nilai keagamaan dan sejarah. Acara ini menguatkan ikatan sosial di antara warga desa, memperkuat hubungan mereka dengan masa lalu, dan menanamkan rasa kebersamaan yang kuat. Melalui acara ini, Desa Pariok berhasil menjaga warisan budaya dan agama mereka tetap hidup serta merayakan peristiwa penting dalam sejarah Islam. Setiap tahun, warga desa bersatu dalam persiapan dan pelaksanaan acara ini, melestarikan tradisi yang menjadi bagian dari identitas mereka sebagai masyarakat yang saling peduli dan berbagi.